The Right One, I Hope… (Part I)

images (2)

Seiring dengan bumi yang terus berotasi, waktu pun terus bergerak membawaku pada kenyataan di depan mata. Kenapa waktu cepat sekali berlalu membawa mimpi-mimpiku satu per satu terwujud. Bahagia pasti, tapi juga terselip kekhawatiran dalam hati, semoga ini bukan akhir.

Tiga tahun lalu, tidak pernah terfikir olehku akan sampai seperti ini. Satu per satu berani mengambil langkah baru, menjalani yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Aku menjadi lebih berani mengambil keputusan walaupun ragu kadang muncul juga.

Aku tahu aku benar-benar yakin dengan hatiku ketika aku mantap berka “Iya” padanya sambil tersenyum malu. Aku tidak pernah seyakin itu pada orang lain sebelumnya. Entahlah… Waktu pulalah yang membawa kami pada perjalanan penuh liku sekalipun mungkin belum seberapa, tapi aku selalu yakin ini benar-benar proses menjadi KAMI yang sebenarnya, bukan aku dan dia. Begitulah aku selalu yakin untuk hal macam ini.

Setiap kali melewati rintangan aku selalu yakin kami (lagi-lagi aku mantap mengatakannya) pasti bisa melewatinya bersama. Rindu yang terkadang egois, keinginan yang kadang berbeda karena perbedaan karakter, tapi MIMPI yang Kami miliki adalah sama. Keyakinan yang terus itu membuatku berdoa semoga keyakinan itu bukan hanya milikkiu saja. Yakinkan dia juga, Tuhan jangan hanya aku, karena aku takut yakin ini hanya milikku.

 

Hal Sensitif Itu Bernama “Mood”

mood

Kayaknya emang lagi mood banget buat ngeposting blog, bahkan sampe dua blog diposting semua. Rajin apa karena lagi mood?

 

Iyap, benar! Setiap hari kita selalu dipengaruhi sama yang namanya mood. Termasuk saat ini aku lagi mood banget yang namanya nulis buat diposting di blog, mulai hari ini semoga bisa terus eksis lagi di dunia perblog-an. Aamiin. Dan tetntunya menulisyang bisa bermanfaat, minimal menghibur yang baca😀

Pernah gak ngalamin perubahan mood drastis dalam hitungan waktu gak ada sejam? Pasti pernah kan? Misalnya karena mendengar kabar buruk/baik. Mood sebenarnya dipengaruhi oleh panca indera kita juga. Misalnya kayak telinga tadi, mendengar kabar baik jadi senyum senyum, sebaliknya jadi cemberut bahkan nangis kalau mendengar kabar buruk. 

Banyak situasi yang bisa bikin kita berubah mood drastis. Seperti saat kita mendengar iram musik mellow, udah pasti kita jadi kebawa mellow. Gak mungkin kan kita dengerin lagu rock malah jadi galau? Yah kecuali liriknya mendayu-dayu. Ada gitu lagu rock lirik mendayu-dayu? hehe…

Ada lagi nih yang kalau dilihat lucu juga, kita bisa ketawa-ketawa sendiri kalau liat tayangan komedi atau baca komik lucu. Mempengaruhi mood banget kan? Atau jadi kebawa suasana mewek kalau liat tokoh favorit kita di film/sinetron lagi meranin adegan sedih, sampai habisin bergulung-gulung tissu.

Mood yang berubah drastis juga gak baik buat diri sendiri juga orang di sekeliling. Sebaiknya harus bisa mengendalikan mood, bahaya juga kalau berlebihan dan dibawa sepanjang hari.Gambar

Alhamdulillah

Akhirnya setelah tiga tahun gak bisa buka blog ini karena lupa nama emailnya, bisa kebuka juga..

Mumpung lagi semangat nulis lagi karena udah gak terlalu sibuk, semoga besok udah kerja juga selalu disempetin ngeblog, mau punya niatan rajin ngepost lagi. Cuma bedanya harus lebih dewasa yah masak mau teenlit banget nuansanya. Post-post yang dulu abaikan saja, biar saja tersimpan rapi di blog ini.

Oh iyah, tengok juga blog satunya http://dhylecious.blogspot.com/ blog yang lebih santai dari blog ini, yah buka berarti juga blog ini berat. Tenang saja like doughter like mother ;p

Waktumu Hanya Dua Pekan

Daun masih terus terbuai tiupan lembut Sang Angin tiap harinya
Benar-benar lembut memberikan nuansa hangat baru untuk daun
Daun tetaplah akan jadi daun jika tetap pada pohonnya
Angin juga akan tetap jadi angin jika hanya meniupkan pesonanya tanpa pernah membawa daun pergi dari pohonnya

Angin, kuberi kau waktu dua pekan untuk bertindak
Bawa aku pergi dari pohon
Benar-benar dua pekan yang penuh tanda tanya
Tak mungkin selamanya angin bertiup begini, hanya menggoyangkan tanpa membawa daun pergi

Satu pekan hampir berlalu
Angin masih pada kebiasaannya
Membelai daun dengan lembut, tapi belum membawanya pergi
Waktumu hampir berakhir, Wahai Angin
Jika satu pekan berikutnya tetap sama,
Daun akan tetap pergi tanpa tiupan angin, mati dan kering

Angin Bawalah Aku pergi

Kali ini daun sangat berharap ada angin kencang membawanya terbang jauh dari pohon
Jauh membawanya pada kehidupan baru
Membawanya pada perjalanan panjang melewati desa
Melihat kehidupan lain, melihat kisah manusia
Angin akan terus membawanya ke gunung menikmati aroma hijau
Perjalanan terus sampai ke aliran sungai
Daun tanpa pohon, hanya dengan angin

Sedang Mencoba Berdamai

Aku hampir selalu memimpikannya di ujung pagiku
Bagaiamana agar dia tetap di sisiku
Menjadi bagian paling penting dalam hari-hariku berikutnya
Akan nampak padanya kepingan puzzle

Sore kemarin menceritakan hal yang lain
Aku benar-benar menginginkan yang lain
Berharap mimpi yang lain muncul, apapun itu
Gemuruh hati menginginkan segalanya cepat berubah

Aku bahkan merasa geli dengan cerita kemarin
Akh, Tuhan…
Aku mohon untuk cerita yang baru..
Cerita yang mendamaikan, bukan berperang melawan isi hati selamanya..

Sedang Berimajinasi Lagi

Beberapa kali mendengar banyak teman berseloroh seperti ini, “Kepengen loh jadi relawan korban merapi sama mentawai…”. Entah hanya selorohan biasa atau memang belum bisa mewujudkannya karena beberapa kendala. “Tapi aku gak siap dengan resiko kamar kecilnya je..”, begitu lanjutannya.

 

Bagaimana sebenarnya pengertian relawan di benak masing-masing orang ya? Saya juga sangat punya keinginan jadi relawan kok, tugas mulia loh. Menolong sesama, juga bukan tugas mudah. Punya keinginan yang tidak bisa direalisasikan. Itu beberapa hal yang terpikir oleh saya tentang relawan, di samping pertanyaan-pertanyaan yang masih saya simpan satu persatu muncul. Bukan menjadi penghalang yang menyurutkan keinginan untuk menjadi relawan loh, tapi lebih pada bagaimana peran mereka di sana, kondisi mereka di sana di tengah para korban.

 

Pertanyaan pertama, apa yang harus dipersiapkan buat jadi relawan tanpa modal apa-apa?

Hehe, merasa tidak punya modal apa-apa buat jadi relawan jadi yang terpikir pertama adalah itu. Yang terfikir itu relawan harus sangat mobile kemana-mana dan gesit. Punya hati setebal kulit badak, siap banting. Tidak ada kata ngeluh seperti “Dimana aku mandi dan buang hajat? Gimana nih…”

 

Pertanyaan kedua muncul menyusul,  kalau terjadi sesuatu siapa yang bakal peduli?

Relawan tugasnya apa sih di daerah bencana? Kasarnya kalimat buat tempat direpotin bukan malah ngrepotin.  Pengungsi cuma tahu relawan datang dengan bantuan. Siapa bakal peduli si Relawan lagi masuk angin, asma kumat atau menderita patah hati akut. Apakah relawan bakal mengeluh ke pengungsi? Apa jadinya nanti? Jadi lupakan diri sendiri dulu.

 

Pertanyaan ketiga, sepertinya bingung menempatkan diri di bagian mana ya?

Yak, salah tempat bisa berabe. Tidak mungkin dokter dan perawat diletakkan di bagian masak memasak kan? Atau sebaliknnya. Ya hal macam itulah. Hal selanjutnya terpikir adalah, mungkin menjadi teman bermain anak menghilangkan traumanya itu menyenangkan ya? Hmm, bayangan sederhana.

 

Pertanyaan ke empat yang mengerikan muncul di pikiran, Gimana kalau nanti ketemu korban sekarat lalu meninggal? Atau ketemu korban yang puaraaah banget? Pertanyaan terjawab: Seorang relawan tidak mungkin paranoid seperti itu. Apa jadinya kalau relawan malah ikutan pingsan saat evakuasi korban? Parahnya lari terbirit-birit karena syok.

 

Pertanyaan kelima muncul lebih mengerikan, Kalau ada gempa susulan atau letusan susulan mau lari kemana?? Ini lebih gila lagi. Sedikit konyol rasanya ketika pertanyaan macam itu muncul, pasti the real resquer tidak mungkin terlintas pikiran seperti itu.

 

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan menjadi penyurut keinginan untuk jadi relawan. Sekalipun tidak terjun langsung  dan penasaran tetap tersimpan rapi. Sekarang sedang terpikirkan bagaimana cara lain untuk tetap berkontribusi. Dan belum terjawab juga.

 

Tidak menjadi relawan tapi sedikit menyimpulkan dalam beberapa kalimat, “Terima kasih untuk para relawan, untuk waktu, tenaga materi, pikiran dan hal-hal lain yang dikorbankan. Hanya Tuhan yang bisa membalas segalanya. :)”

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.